Indonesia
merupakan negara kepulauan, yang berarti banyak pulau di dalamnya. Jika banyak
pulau, sudah berarti memiliki air yang melimpah. Bahkan bumi ini pun tertutupi
kira-kira oleh 70% air dan sisanya sudah pasti daratan yaitu kira-kira
30%. Jika air
lebih mendominasi bumi kita, lalu kenapa di berbagai wilayah masih saja mengalami
kekeringan? Disini saya akan membahas banyak tentang air.
Air
merupakan kebutuhan esensial bagi makhluk hidup. Kebutuhan esensial disini
maksudnya adalah kebutuhan yang harus ada(mutlak). Air sangat dibutuhkan untuk
kelangsungan hidup manusia, hewan, tumbuhan untuk tetap bertahan hidup. Bayangkan saja jika tidak air, sudah
pasti tidak ada kehidupan di bumi ini.
Beberapa
sumber air yang ada diantaranya yaitu:
1. Daerah Aliran Sungai
(DAS)
Dahulu kala, masyarakat masih benar-benar tradisional. Mereka belum mengenal yang namanya teknologi. Masyarakat yang hidup di zaman itu memanfaatkan air sungai sebijaksana mungkin untuk kebutuhan sehari-harinya. Pada saat itu, tentu aliran sungai masih bersih dan segar. Sangat memungkinkan bila masyarakat mencari makan di sungai(misalnya ikan). Bahkan mereka juga menggunakan air sungai sebagai air minum, namun tetap setelah melalui proses pemasakan terlebih dahulu. Ini masih terbilang layak karena kondisi sungai yang baik. Masyarakat juga menggunakan air sungai untuk mencuci pakaian sekaligus untuk mandi. Namun ini bukan menjadi masalah, sebab pada saat itu belum ada yang namanya sabun dan semacamnya. Sehingga sungai tidak tercemari oleh bahan kimia yang terkandung di dalam produk tersebut.
Berbeda jauh bila dibandingkan dengan sekarang ini. Teknologi berkembang dengan pesat. Semua kebutuhan manusia menjadi lebih ringan. Pekerjaan apapun menjadi lebih cepat selesai. Dengan pesatnya teknologi inilah, manusia terus bereksperimen sehingga terciptanya perlengkapan dan peralatan yang lebih praktis. Namun bahan yang digunakan untuk memproduksi semua itu tidak lepas dari bahan-bahan kimiawi yang sebenarnya dapat mengganggu kesehatan. Tetapi apa boleh di kata, semua manusia modern pasti lebih memilih praktis daripada harus susah payah untuk suatu hal yang sepele. Hal yang dianggap sepele inilah yang harusnya di perhatikan. Karena yang mereka sepelekan adalah kesehatan makhluk hidup.
Disinilah
masalah mulai terlihat. Limbah sisa hasil produksi tidak dipikirkan secara
matang.
Dengan berkembangnya teknologi, seharusnya mereka berfikir dan bereksperimen mengenai bagaimana cara mensterilkan limbah sisa produksi mereka dari bahan-bahan kimia serta dari bakteri yang berbahaya. Namun yang terjadi, banyak sekali pabrik-pabrik atau pun perusahaan yang tidak berfikir panjang. Mereka cenderung berfikir sempit karena ke egoisannya. Membuang limbah di sungailah yang terjadi sekarang ini. Tanpa mengolahnya terlebih dahulu untuk di sterilisasi dari bakteri dan bahan kimiawi, merka langsung membuangnya ke sungai. Tanpa dosa mereka tidak bertanggung jawab.
Dengan berkembangnya teknologi, seharusnya mereka berfikir dan bereksperimen mengenai bagaimana cara mensterilkan limbah sisa produksi mereka dari bahan-bahan kimia serta dari bakteri yang berbahaya. Namun yang terjadi, banyak sekali pabrik-pabrik atau pun perusahaan yang tidak berfikir panjang. Mereka cenderung berfikir sempit karena ke egoisannya. Membuang limbah di sungailah yang terjadi sekarang ini. Tanpa mengolahnya terlebih dahulu untuk di sterilisasi dari bakteri dan bahan kimiawi, merka langsung membuangnya ke sungai. Tanpa dosa mereka tidak bertanggung jawab.
Sungai
yang berwarna coklat pekat, hitam, dan bahkan berwarna hijau itulah limbah sisa
produksi yang telah mencemari air. Air sungai yang tercemar pasti akan berbau
busuk menyengat karena kandungan dari bahan kimia yang berbahaya, terutama
logam. Tidak hanya itu, air yang tercemar juga banyak mengandung bakteri
(misalnya Escherichia Coli). Apakah air tersebut masih layak untuk dikonsumsi
seperti halnya pada zaman tradisional tadi? Tentu tidak, ini di karenakan
kondisi air sungai yang sangat jauh dari kata layak.
Terlebih
lagi jika perlengkapan dan peralatan tadi sudah usang bahkan rusak, pasti
manusia akan membuangnya begitu saja dan membeli lagi yang lebih baik. Asal
kalian tahu, hampir semua manusia malas untuk melakukan kegiatan. Ini juga
merupakan dampak negatif dari perkembangan teknologi. Manusia terlalu
menggantungkan hidupnya kepada teknologi. Yang memperparah keadaan adalah,
untuk membuang sampah pada tempatnya saja manusia enggan untuk melakukannya. Mereka
sudah terbiasa membuang sampah sembarangan. Di mana bereka berdiri(duduk), di
situlah mereka akan membuang sampah. Betapa ironisnya hal ini.
Sampah
bertebaran di mana-mana. Di darat bahkan di daerah aliran sungai. Tentu ini
sangat tragis. Sungai yang seharusnya menjadi sumber air bersih malah menjadi
lautan sampah yang menjijikkan. Sungai berwarna keruh, berbau dan tidak dapat
mengalir ini sungguh sangat menyedihkan. Sumber air bersih berkurang satu demi
satu. Semua ini karena ke egoisan kita manusia. Kapan semua menyadari hal ini?
Dan kapan kita akan berubah untuk dapat memperbaiki kekacauan ini? Semua perlu
adanya kerjasama antara pihak pemerintahan dan masyarakatnya.
2. Air yang berasal dari ‘Curah
Hujan’
Pemerintah/
individu/ atau kelompok biasanya membangun bendungan dan tandon air untuk
menampung air bersih yang berasal dari hujan itu. Ini bertujuan agar di saat
musim kering, masyarakat masih mempunyai cadangan air untuk dapat melakukan
aktivitas seperti MCK. Tidak hanya itu, bendungan juga dapat menekan kerusakan
bila terjadi musibah banjir.
3. Air Permukaan dan Air
Bawah Tanah
Inilah
sumber air yang paling bersih dan baik untuk dapat dikonsumsi makhluk hidup. Saat musim kering air di permukaan
sering sekali surut hingga tanah terlihat sangat tandus. Jika sumber air dari
permukaan sudah tidak keluar, masyarakat beralih untuk menggunakan air tandon yang ada. Jika musim kering berlangsung
sangat lama, sudah pasti dalam jangka ang cukup panjang air tandon pun akan
habis. Jika kedua dari sumber air bersih sudah tidak berfungsi lagi, masyarakat
terpaksa menggunakan air sungai. Kalau sungai yang digunakan masih dalam
kondisi yang baik, ini bukan masalah besar.
Ironisnya,
masyarakat menggunakan air sungai yang beberapa sudah tercemar. Ini benar-benar
tragis. Sungai yang tadi tercemari oleh limbah dan sampah, dijadikan masyarakat
sebagai penopang hidup. Digunakan sebagai MCK dan beberapa orang yang kurang
mampu menggunakan air sungai tersebut untuk diminum.
Sangat-sangat tidak wajar bila di lihat. Namun apa boleh buat, air bersih yang di kelola oleh tiap PAM daerah hanya tersebar di daerah kota saja. Itupun hanya dalam skala yang kecil.
Sangat-sangat tidak wajar bila di lihat. Namun apa boleh buat, air bersih yang di kelola oleh tiap PAM daerah hanya tersebar di daerah kota saja. Itupun hanya dalam skala yang kecil.
Padahal,
tanpa pengolahan yang tepat, bahkan setelah direbus sekali pun, sumber air
tersebut seringkali masih belum aman sepenuhnya dari kuman untuk dapat di
minum. Dengan keadaan air yang sedemikian jauh dari kata sehat dapat
menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Seperti diare, cacingan, dan masih
banyak lagi.
Maka
Pureit menjadi jawaban atas misi tersebut. Dengan teknologi canggih, Pureit
layak di pilih sebagai salah satu alternative intuk menghasilkan air minum
tanpa menggunakan gas dan listrik. Selain praktis dan higenis, Pureit juga
ekonomis.
Proses
kerja pemurnian air dibagi menjadi 4 tahap:
Tahap 1: Saringan Serat Mikro menghilangkan semua kotoran yang terlihat
Tahap 2: Filter Karbon Aktif menghilangkan pestisida dan parasit berbahaya
Tahap 3: Prosesor Pembunuh Kuman menghilangkan bakteri dan virus berbahaya dalam air
Tahap 4: Penjernih menghasilkan air yang jernih, tidak berbau, dengan rasa yang alami
(dikutip dari :http://www.pureitwater.com/ID/4stage-purification)
Tahap 3: Prosesor Pembunuh Kuman menghilangkan bakteri dan virus berbahaya dalam air
Tahap 4: Penjernih menghasilkan air yang jernih, tidak berbau, dengan rasa yang alami
(dikutip dari :http://www.pureitwater.com/ID/4stage-purification)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar